[No. 3]
Di bawah terik matahari ku berjongkok mengayak hati
Menceraikannya dari segala bebutiran
Menjemurnya hingga kering tandus
…….Butiranmu masih menempel di situ…
Ku congkel butiranmu dari hati hingga tersayat, bedah saja sesukanya
Meremasnya penuh daya, rajam… rajam… rajam ! Jangan henti !
Hempaskan ke dasar hingga memercik getih !
…….Butiranmu tetap saja ada…
Butiran itu hidup… merambat dan jalang !
Bagai kanker yang terus mengikis karang hati tuju pualamnya…
Stop ! Jangan terus…! Sang empunya tak ingin kau tumbuh di sini…
Tiba-tiba terlintas… kawah candradhimuka !
Kan dilemparkan hati ke jurang gelegak magma, terlumatlah segala !
Jangan pikir ! Tak usah rasa ! Purna sudah !
. . . . . . . . . . .
Di sini… persis di bawah gapuro malam ku duduk bersandar…
Berteman desau angin dan jangkrik berceloteh
Gemulai alunan tangan di atas secarik kertas putih
“Maafkanlah aku yang sungguh tengah merindumu”
[Jakarta, 12 Maret 2006 jam 00.30 wib]
::
::